Berita

Kenangan Aburizal Bakrie Kepada Ibunda Tercinta

KatoKito.com  – Tokoh Nasional yang juga Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie hari ini berziarah ke Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. ARB, sapaan Aburizal, berziarah ke makam ibundanya Almarhumah Roosniah Bakrie, yang wafat tepat pada hari ini (20 Maret) enam tahun lalu.

“Hari ini, enam tahun lalu, duka yang mendalam menyelimuti saya dan keluarga. Ibunda tercinta Roosniah Bakrie berpulang ke rahmatullah,” kata ARB melalu akun facebooknya.

Selain berziarah dan mendoakan ibunda bersama adik-adiknya, ARB juga mengenang sosok ibunda yang baginya dan adik-adiknya adalah segalanya. Bahkan saking hormat dan sayangnya pada sang ibunda, ARB dan adik-adiknya selalu mengikuti apapun yang dikatakan ibundanya.

“Bagi kami ibunda adalah segalanya, apa yang beliau katakan adalah titah yang tidak boleh kami bantah. Maka benarlah bahwa surga ada di telapak kaki ibu” tuturnya.

Pada berbagai kesempatan, ARB bahkan pernah mengungkapkan bahwa karena patuh pada ibundanya, dirinya pernah menolak tawaran dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memintanya menjadi calon wapresnya. Itu karena sang ibu saat itu tidak merestui ARB untuk maju.

Untuk mengenang ibunda, ARB juga memposting tulisan yang dibuatnya saat sang ibunda berpulang. Tulisan yang dimuat di blog pribadi ARB (aburizalbakrie.id) itu berjudul: “Mengantar Ibunda Roosniah ke Pusara”

 

Mengantar Ibunda Roosniah ke Pusara

Selasa sore, 20 Maret 2012, adalah hari yang penuh duka bagi saya dan keluarga besar. Hari itu, sekitar pukul 15.40 WIB, orang tua kami, ibunda tercinta Roosniah Bakrie, berpulang ke rahmatullah, di Rumah Sakit Siloam Glenagles, Karawaci, di depan kami, anak-anak dan cucu-cucunya. Hari itu kami merasa kehilangan sekali seorang ibunda dan andung tercinta.

Banyak orang datang menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhumah. Dari Senin sore semenjak jenazah tiba, sampai Rabu siang saat jenazah dikebumikan, rumah duka di Jl Terusan Hang Lekir IV, No 32 Simprug, Jakarta Selatan menerima kehadiran para pelayat. Mereka mulai dari para pemimpin negara seperti Presiden SBY, Wapres Boediono, para menteri dan tokoh rakyat lainnya, sampai warga masyarakat. Semua berbaur.

Untuk itu, atas nama keluarga besar, saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Ibu saya meninggal dunia di usia 85 tahun. Beliau lahir pada 17 Juni 1926 di Pangkalan Berandan, Sumatra Utara. Ibu lahir dari pasangan H. Achmad Nasution dan H. Halimatusa’diah. Pada 17 November 1945, Beliau menikah dengan pemuda asal Lampung, yaitu Achmad Bakrie. Dari pernikahan itulah lahir saya, Odi (Roosmania), Nirwan, dan Indra.

Setelah Odi, sebenarnya saya juga memiliki adik laki-laki, namanya August Alamsyah. Namun, dia meninggal saat baru lahir. Banyak yang bilang wajahnya mirip dengan Nirwan. Sekarang makam dan nisannya jadi satu dengan ayah saya.

Di keluarga, ayah dan ibu saya memberikan pendidikan dan keteladanan yang tak ternilai. Ini kemudian yang membuat kami anak-anaknya, juga cucu-cucunya menjadi sangat cinta dan hormat pada Beliau. Bahkan, ayah saya sering mengatakan dia tak salah pilih istri, karena ibu saya sering membantu dan selalu mengoreksi kepincangan-kepincangannya. Juga menjadi tempat berbagi suka maupun duka.

Keduanya juga mengajarkan hidup harmonis dan saling menghormati. Mereka menghindari bertengkar di depan anak dan mengajarkan kerukunan. Ini yang kemudian berupaya kami teladani dan jadikan acuan dalam membangun keluarga.

Ibu saya mendidik dan membesarkan saya dan adik-adik saya dengan penuh cinta. Karena itu, saya pun sangat mencintai Beliau. Apa yang dikatakan Beliau selalu saya dengar dan saya laksanakan. Sering saya membatalkan agenda kegiatan saya jika Ibunda memanggil.

Bagi kami di keluarga Bakrie, apa pun yang dikatakan Ibunda, adalah titah. Contoh yang sering saya ceritakan adalah bagaimana ibu saya memerintahkan kepada kami untuk membantu warga korban Lumpur Sidoarjo. Meskipun secara hukum kami dinyatakan Mahkamah Agung tidak bersalah, ibu saya tidak peduli dan memerintahkan kami untuk tetap membantu warga. Beliau trenyuh melihat musibah itu dan nasib para korbannya.

Kami memegang teguh amanat itu dan sekuat tenaga berupaya melaksanakannya. Meskipun harga tanah dan bangunan di situ telah sedemikian rupa dimahalkan berkali-kali lipat, kami tetap membelinya sesuai amanat almarhumah. Sungguh mulia hati Ibunda itu.

Saat pemakaman ibu saya, beberapa perwakilan korban Lumpur Sidoarjo juga datang melayat. Mereka mengatakan juga merasa kehilangan dan berterima kasih pada almarhumah karena tetap membantu, tanpa melihat apakah hukum menyatakan benar atau salah.

Itu memang menjadi watak ibu saya. Dia selalu mengajari kami untuk selalu membantu mereka yang kesusahan atau kurang beruntung. Dia mudah trenyuh dan segera membantu jika melihat mereka yang terkena musibah atau kurang beruntung. Saat bencana Tsunami 2004 di Aceh, ibu saya juga tergerak untuk membantu membuatkan rumah untuk para korban.

Agustus tahun lalu, ibu saya juga mendirikan sebuah masjid yang dinamai Roosniah Al-Achmad di Bogor. Mesjid ini juga menjadi tempat anak-anak belajar dan warga sekitar melaksanakan

 

berbagai kegiatan lainnya

Banyak kenangan dan kebaikan yang ditaburkan ibu saya bukan hanya pada keluarganya namun juga sesamanya.

Akhirnya hari itu, ibu saya dimakamkan di samping makam suaminya tercinta, Achmad Bakrie, yang pada 15 Februari 1988 lalu lebih dulu meninggalkan kami. Para cucu laki-laki almarhumah yang membantu menurunkan andung mereka ke liang lahat.

Semoga Allah mengampuni segala kesalahannya, dan memberikan tempat terbaik di sisinya. Semoga kami yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan untuk selalu menjalankan berbagai teladan baik yang Beliau ajarkan.

Selamat jalan, Ibunda…

Berita Terpopuler

Katokito adalah portal yang melayani informasi dan berita dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman. Media online ini diperbaharui selama 24 jam dalam sepekan, dan secara kreatif mengawinkan teks, foto, video dan suara.

Copyright © 2018 katokito.

To Top