Berita

Lampung Pasang Target Jadi Pusat Pengembangan Singkong Nasional

Provinsi Lampung ingin dijadikan sebagai pusat pengembangan inovasi teknologi dan hilirisasi agribisnis ubi kayu nasional. Produksi ubi kayu yang cukup besar membuat Lampung giat mendorong hilirisasi produk berbahan dasar ubi kayu.

“Produksi ubi kayu Provinsi Lampung  pada 2016 sebesar 7,3 juta ton, berdasarkan data BPS jumlah tersebut merupakan 30,8% produksi ubi kayu nasional,” kata Asisten Administrasi Umum Sekretariat Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis.

Majunya sektor agribisnis ubi kayu di Provinsi Lampung diharapkan berkontribusi besar pada pembangunan kemandirian pangan nasional serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

Tantangan pengelolaan dan pemanfaatan hilirisasi ubi kayu di Lampung terus berkembang, kompleks, dan dinamis. Ubi kayu selain untuk panganan, juga dikembangkan sebagai sumber energi nabati untuk menghasilkan bio-etanol, kosmetik, farmasi, dan kebutuhan industri lainnya.

Tak hanya itu, pemanfaatan limbah ubi kayu sisa olahan juga ikut berkembang. Misalnya saja pemanfaatan hasil samping pabrik tapioka berupa limbah padat atau onggok untuk pakan ternak. Kemudian penggunaan limbah cair asal pabrik tapioka untuk energi biogas bagi kebutuhan industri dan rumah tangga.

“Fakta tersebut memposisikan Lampung sebagai daerah potensial untuk peningkatan dan pengembangan ubi kayu. Hal ini tentu memerlukan dukungan dan partisipasi penuh dari seluruh stakeholders yang terkait, termasuk peran Dewan Riset Daerah (DRD),” kata Hamartoni.

Dengan mengusung tema ‘Revitalisasi agribisnis ubi kayu hulu-hilir menuju kemandirian pangan, energi dan industri nasional’, kata Hamartoni, kesejahteraan masyarakat peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta penguatan ketahanan pangan dan energi bisa tercipta.

Hamartoni berharap koordinasi dan komunikasi DRD dengan pemerintah daerah semakin erat. Targetnya, mendorong lahirnya kebijakan yang tepat di tingkat kabupaten/kota, provinsi, regional, dan nasional untuk menunjang pengembangan agribisnis ubi kayu.

“Perlunya promosi komoditas ubi kayu, sebagai komoditas strategis nasional untuk mendukung kemandirian pangan, energi, dan pengembangan industri yang terkait lainnya, pengembangan produk hilirisasi ubi kayu untuk meningkatkan nilai tambah produk serta meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan petani,” kata Hamartoni.

Ketua Dewan Riset Nasional Bambang Setiadi mengatakan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, dalam meningkatkan daya saing harus melakukan inovasi dan teknologi. Salah satu langkah menuju negara maju dan berkembang salah satunya inovasi terhadap sektor agribisnis.

“Kami siap membangun Indonesia, paling tidak persoalan di Sumatera dengan melakukan inovasi, dibidang agribisnis. Inovasi rumusnya sederhana, yakni temuan di padukan dengan komersil dan akhirnya membentuk inovasi,” kata Bambang.

Tugas DRN sendiri ada tiga yaitu membuat agenda riset nasional, memberi masukan kepada Menteri mengenai kebijakan sedang berjalan dan Mengenai Undang-Undang mengenai inovasi. “Undang-undang inovasi arahnya bahwa pemerintah tidak boleh memotong dana riset, dan pemerintah juga harus menetapkan riset-riset yang menjadi unggulan,” ujar Bambang.

Pertemuan DRD se-Sumatera, di Lampung, dapat memberi masukan kepada Gubernur se-Sumatera, menteri maupun Presiden dalam rujukan pembangunan di Sumatera. “Ini harus kompak, sehingga para DRD menyatu yang menyangkut masalah sumatera.”

Ketua DRD Provinsi Lampung, Hasriadi Mat Akin mengatakan Provinsi Lampung selain merupakan penghasil ubi kayu, Lampung juga penghasil singkong, gula tebu, dan kopi robusta terbesar di Indonesia.

“Dengan pencapaian tersebut tidak heran bahwa Lampung menjadi bumi petani, dan Lampung merupakan daerah agribisnis yang paling tepat untuk mengembangkan industri yang berbasiskan pertanian,” kata Rektor Universitas Lampung tersebut.

Berita Terpopuler

Katokito adalah portal yang melayani informasi dan berita dengan mengutamakan kecepatan serta kedalaman. Media online ini diperbaharui selama 24 jam dalam sepekan, dan secara kreatif mengawinkan teks, foto, video dan suara.

Copyright © 2018 katokito.

To Top